MAHALNYA PENDIDIKAN…APA KATA DUNIA….

Indonesia,bila kita lihat dari berbagai sudut pandang akan didapati hal-hal yang seharusnya tidak kita dengar. Pendidikan adalah salah satunya hal yang sangat memprihatinkan bagi bangsa kita. Berawal dari semangat perjuangan tempo dulu yang begitu berkobar, kemudian muncul tokoh-tokoh penggerak pendidikan yang menggebrak bangku Indonesia saat tertidur. Zaman dulu itu pendidikan mulai dikembangkan keilmuannya. Namun kita lihat sekarang pemerintah yang tidak bertanggungjawab atas pendidikan. Ingat, sejarah bahwa Malaysia pernah impor tenaga pendidik dari Indonesia yang telah dianggap maju pendidikannya saat itu. Tapi apa yang terjadi sekarang, Indonesia kalah jauh dari negara-negara lain di dunia.

Persoalan pendidikan yang dihadapi Indonesia kali ini mengenai mahalnya biaya pendaftaran masuk sekolah dan Perguruan Tinggi. Persoalan ini memang persoalan klasik yang selalu hadir dari tahun ke tahun saat tahun baru ajaran akan dimulai. Tapi persoalan besarnya biaya pendidikan yang timbul tidak bisa dianggap persoalan yang remeh, karena hal ini menyangkut keadilan dan hak bagi seluruh anggota masyarakat untuk bersama-sama mendapat pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Kita bisa lihat dalam pasal-pasal tentang Undang-Undang Dasar 1945. Apa kenyataan yang kita lihat? Ternyata biaya pendidikan untuk seluruh rakyat Indonesia masih kurang. Sebenarnya, bila gaji para pejabat-pejabat dikurangi 25% saja, akan sangat membantu memberi sumbangsih pada pendidikan di Indonesia. Namun, pejabat tetap saja pejabat yang haus akan harta, mereka hanya bisa berfoya-foya menghabiskan uang rakyat yang tidak berdosa. Sungguh telah buta para pejabat bangsa.

Sekarang kita tilik tentang BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Pertama kita dengar, perkiraan yang muncul adalah bahwa pendidikan di Indonesia akan berubah lebih baik. Tapi ternyata malah justru semakin memburuk. Sebenarnya banyak dari putra-putri bangsa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi, namun mereka tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak mampu membiayainya. Apa tidak kita sayangkan para generasi penerus bangsa yang bernasib demikian? Padahal itulah aset terbesar dari negeri ini. Rakyat kecil menjerit, pemerintah tetap saja meneruskan siksaannya. Para pejabat apakah lupa, mereka dahulu bersekolah juga dan dengan pendidikannya telah mengantarnya pada kursi yang empuk? Memang seperti apa yang pepatah bilang “Lupa kacang akan kulitnya”.

Dana yang begitu besar dalam BOS pun juga ikut diowah-owah. Oknum pejabat pendidikan macam apa itu? Sudah digaji, tapi masih rajin menguras uang rakyat. Kurang kerjaan, iseng saja, atau apa istilah mereka gunakan? Pendidikan seharusnya digratiskan seperti negara-negara maju. Apa pemerintah tidak ingin negara kita maju? Banyak pengangguran dan rakyat miskin terlantar? Mau dibawa kemana masa depan bangsa ini? Apa mau dijual negara ini untuk melunasi hutang-hutang pemerintah? Sungguh mengenaskan bagaikan telur diujung tanduk yang sewaktu-waktu bisa pecah. Adakah cara lain yang digembor-gemborkan pemerintah? Slogan-slogan terus mencuat tinggi, tapi sangat tidak berarti. Bangkitlah negeriku, kita telah tertinggal jauh dengan negara-negara lain. Apa kita hanya bisa merangkak? Alon-alon waton kelakon jawaban pemerintah, lalu kapan kita akan berlari menggapai cita-cita bangsa Indonesia? Harusnya yang kita lakukan adalah Cepat-cepat asal selamat.

Pemerintah, Sekolah, Perguruan Tinggi sekarang telah berlomba-lomba dalam memungut biaya pendidikan. Malah tak jarang kita lihat, banyak dari lembaga pendidikan yang terus mengeruk uang rakyat dengan beralibi pendidikan yang baik itu mahal harganya. Okelah kalau mereka berkata demikian, tapi benar diterapkan atau tidak pendidikan mahal yang berkualitas yang mereka teriakkan. Banyak Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi dari negeri maupun swasta yang membuat pendidikan sebagai ladang lahan bisnis mereka. Sungguh telah bobrok administrasi pendidikan Indonesia. Banyak pihak pengusaha berlomba-lomba mendirikan sekolah-sekolah, perguruan tinggi-perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga pendidikan. Tapi tujuan niat dan maksud mereka tidak lain hanya mengisi perut mereka sendiri. Tidak melihat betapa inginnya rakyat-rakyat kecil untuk mendapatkan ilmu yang hakiki. Malah yang mereka dapatkan hanyalah pembodohan-pembodohan yang berkelanjutan. Pendidikan bukan untuk dijual bukan untuk dikomersilkan dan bukan dibuat sebagai ladang bisnis tapi seharusnya pendidikan dibuat menjadi jembatan emas yang bernilai tinggi yang akan mengantarkan negara kita ini menuju negara yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, mempunyai masa depan cerah, dan disegani oleh banyak bangsa-bangsa di dunia.

Marilah kita renungkan bersama-sama, akan jadi apa anak cucu kita, penerus tulang punggung bangsa ini. Kita tidak bisa hanya diam berpangku tangan maupun berdoa saja. Kita jangan hanya melihat, mendengar, dan merasa. Untuk itu, ayo kita bangkit, berlari menyongsong kehidupan yang lebih maju dan berkualitas. Dengan niat, tekad kita akan bulat. Dengan semangat, api kita akan tetap terasa hangat. Dengan pendidikan kita pasti bisa meraih cita-cita yang selama ini kita impikan. Tapi, kalau pendidikan di Indonesia ini masih saja mahal untuk selama-lamanya, apa kata dunia?

http://riefun.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s