ANDA PEMARAH ?, MAKA ANDA BERESIKO TINGGI MATI MUDA

ImageIlmu kedokteran modern menemukan bahwa immune system dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat, secara langsung melalui sistem indoktrin. Tubuh kita ternyata menghasilkan sejumlah zat utusan (Massanger substances) neurotransmetter seperti serotonin, neuropeptid seperti indorfin, feron. “Zat-zat inilah” yang kata Jalaluddin Rahmat “mempengaruhi perubahan kondisi fisik dan psikologis manusia, lebih menarik lagi, produksi zat-zat ini juga sangat erat kaitannya dengan kondisi pikiran kita, dengan jiwa kita”.
Karena begitu erat hubungan antara tubuh dan jiwa, maka tak heran bila dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa orang yang hidupnya selalu optimis akan tampak segar bugar dan cenderung tidak mudah terserang penyakit. Sebaliknya orang yang pesimistis, rentan sekali terserang penyakit, bahkan kadar prosentasenya pun lebih banyak yang memiliki umur pendek bila dibandingkan dengan mereka yang selalu berpandangan tenang dan optimis dalam hidupnya.
Pesimistis, kata Dr. Friedman dari University California, berkaitan dengan kecenderungan berpikir negatif dan fatalistik, segala sesuatunya terlihat buruk. Akibatnya orang tersebut mudah terjangkiti rasa bermusuhan yang tidak berkesudahan, rasa sedih yang berkepanjangan dan selalu merasa tertekan.
Selain itu, mereka yang bersikap sinis dan cepat marah pun digolongkan beresiko tinggi untuk mati di bawah usia 50 tahun. Kesimpulan ini pernah diungkapkan oleh Dr. Redford B. William dari Duke University, Durham, Amerika Serikat dalam suatu seminar di Monterey California beberapa tahun yang lalu. Kematian dini pada kelompok ini , katanya, lima kali lebih besar dari berbagai kelompok lainnnya. Penyebab utamanya adalah serangan penyakit jantung.
“Pada orang normal, rasa marah ini bisa dikendalikan. Sedangkan mereka yang berkepribadian pemberang, rasa marah atau tidak senang yang muncul hampir dimanifestasikan dengan tingkatan sinis. Lebih parah lagi banyak di antara mereka ini yang sikap sinis dan bermusuhannya muncul secara tetap setiap hari” tutur William.
Marah cenderung lebih cepat muncul pada kaum pria. “Pada umumnya pria cenderung lebih cepat marah dan agresif dibandingkan dengan wanita” Ujar Dr. Leonard Berkowitz, profesor Psikologi dari Universitas Winconsin ini juga menyebutkan bahwa sifat marah ini disebabkan karena hormon testoteron terhadap perkembangan otak bayi laki-laki sejak masih dalam kandungan.
Penyebab lainnya yaitu faktor sosio kultural. Beberapa kalangan masyarakat masih menganggap kemarahan sebagai sesuatu yang negatif : seseorang boleh saja mengekspresikan perasaan tegang dan tertekannya, kecuali marah. Akibatnya, kita jadi tidak tahu bagaimana cara mengendalikan atau mengungkapkan rasa marah secara tepat. Penelitian juga menemukan bahwa faktor keluarga turut memegang peranan. Orang yang mudah marah biasanya berasal dari keluarga korban perceraian, sering bertikai, dan tidak memiliki komunikasi emosional.
Rasa marah yang tidak terkendali, dapat menimbulkan tindakan agresi (Menyerang) yang malah memperburuk keadaan. Penemuan baru yang dipublikasikan dalam majalah kedokteran Circulation : Journal of The American Heart association, menyatakan bahwa rasa marah berpotensi menimbulkan serangan jantung, terutama pada pria dan wanita paruh baya dengan tekanan darah normal. Ada juga orang yang tidak bisa menyalurkan rasa marahnya dengan tepat (Pasif-agresif) . misalnya seorang tetangga atau rekan kerja yang selalu saja melecehkan, melontarkan kritikan, dan memberi komentar yang sinis terhadap segala tingkah laku orang lain.
University North Carolina telah mengadakan penelitian selama enam tahun dengan melibatkan 13.ooo orang di mana 256 orang di antaranya mengalami serangan jantung. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan marah lebih besar, ternyata beresiko tiga kali lebih tinggi terkena serangan jantung atau meninggal mendadak. Gangguan jantung seorang pemarah 35% lebih tinggi dibandingkan individu yang mampu menahan marahnya. Hasil yang sama juga didapati setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor resiko seperti merokok, diabetes, kolesterol tinggi dan kelebihan berat badan (Obesitas).
Para pakar menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengatasi marah adalah dengan mengetahui hal-hal yang memicunya dan mencegah agar faktor pemicu tersebut tidak sampai membuat seseorang lepas kontrol. Adapun cara yang tepat untuk mengekspresikan rasa marah, yaitu dengan mengungkapkan secara terbuka tetapi tidak agresif (Menyerang). Mengungkapkan kemarahan secara terbuka bukan berarti memaksa atau menekan orang lain untuk menuruti kemauan kita. Menghormati diri sendiri dan orang lain sangatlah perlu. Sedangkan dalam Islam disarankan bagi siapa saja yang marah, maka untuk menghilangkannya salah satu caranya adalah dengan mengambil air wudhu’, lalu mendirikan shalat, agar hati yang panas kembali reda. Untuk itu hindarilah dampak marah yang buruk lebih jauh, tentu jalan terbaiknya adalah menjauhkan dari sifat-sifat negatif itu pada anda, Insya Allah anda akan mendapatkan hidup ini selalu dalam keadaan sehat baik jasmani maupun rohani.
Satu hal lagi yang harus anda jauhi adalah, sifat iri. Menurut Northcote Parkinson dalam bukunya yang berjudul Getting Along With People, ada dua dampak sifat iri. Pertama, membenamkan seseorang pada perasaan sesal, kecewa, depresi/stres,dan frustasi. Kedua, rasa iri cenderung membangkitkan semangat untuk bersaing dengan orang yang berhasil. Dampak pertama sudah selayaknya anda jauhi. Tetapi dampak yang kedua justru bisa membuat anda meraih sukses. Untuk mengembangkannya, cobalah : fokus pada kelebihan orang lain, bila anda sedang merasa iri, berpikirlah bahwa andapun bisa memiliki kelebihan itu. Jangan lama-lama memanjakan rasa iri, bangkit dan tersenyumlah, lalu akui bahwa orang lain yang membuat anda iri itu memang pantas sukses karena hal-hal positif yang dimilikinya seperti kerja keras, penuh semangat, cerdas, dan sebagainya. Selanjutnya atur strategi agar anda bisa menjadi pesaingnya yang sehat. Jangan sekali-kali memupuk rasa iri menjadi kebencian. Yakinlah, walau bagaimanapun anda akan merasa lebih nyaman bersaing dengan perasaan yang positif. Dan cobalah untuk berpikir positif bahwa esok, anda pun akan berhasil seperti dia.
Bersahabatlah dengan orang-orang sukses dilingkungan anda. Keberhasilan dan kesuksesan seseorang juga dipengaruhi dengan siapa anda bergaul. Kalau anda bergaul dengan orang-orang yang gagal maka kemungkinan besar andapun akan ikut gagal, sebaliknya bila anda bergaul dengan orang-orang yang sukses, anda tentu akan termotivasi untuk ikut sukses pula. Dan yang paling penting, carilah cara yang paling rasional untuk mencapai kesuksesan, jangan pernah sekalipun berpikir untuk meraih sukses dengan jalan pintas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s